Ibu Kita Kuat, Tapi Apakah Itu Harus Jadi Standar?

Foto Screenshot akun cumajuna

   Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah postingan TikTok di akunya cumajuna yaitu  ada satu realitas yang jarang dibicarakan secara jujur: cara anak memandang ibunya sering kali membentuk cara ia memandang hubungan di masa depan. Dalam banyak kasus, perempuan tumbuh dengan melihat ibunya sebagai sumber trauma—perempuan yang lelah, menahan banyak hal, dan sering kali mengorbankan dirinya sendiri. Sementara laki-laki justru kerap melihat ibunya sebagai standar: sosok yang kuat, sabar, mengurus segalanya, dan selalu “bisa”.

   Tanpa disadari, pola ini menormalisasi ketimpangan. Apa yang bagi perempuan terasa sebagai luka, bagi laki-laki sering diterjemahkan sebagai hal yang wajar. Perempuan kuat, perempuan sabar, perempuan mengurus—seolah itu kodrat, bukan hasil dari kelelahan panjang yang tak pernah diberi ruang untuk memilih.

    Pola patriarki bekerja dengan sangat halus. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk larangan atau paksaan, tetapi melalui kebiasaan yang diwariskan. Dari rumah, dari cara kita melihat ibu kita sendiri. Ketika seorang anak laki-laki tumbuh dengan menyaksikan ibunya melakukan segalanya, ia bisa saja berpikir: “Dari dulu juga perempuan kuat, dari dulu juga ibu bisa.” Padahal, kata bisa itu sering lahir dari keterpaksaan, bukan pilihan.

     Dampaknya terbawa ke dalam hubungan. Perempuan mulai berani meminta keadilan: ingin dibagi bebannya, ingin didengar, ingin diperlakukan setara. Sementara sebagian laki-laki kebingungan, karena standar di kepalanya adalah ibu yang selalu sanggup memikul segalanya tanpa mengeluh. Di sinilah konflik sering bermula—bukan karena kurang cinta, tetapi karena standar yang tidak pernah dikritisi.

  Islam sejatinya tidak membenarkan ketimpangan semacam ini. Al-Qur’an menegaskan bahwa relasi antara laki-laki dan perempuan dibangun di atas prinsip keseimbangan dan kerja sama:

“Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.”
(QS. Al-Baqarah: 228)

Ayat ini menegaskan bahwa relasi yang adil bukan tentang siapa yang paling kuat menahan beban, tetapi tentang keseimbangan hak dan tanggung jawab.

Lebih jauh, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat ketenangan, bukan sumber penindasan yang diwariskan:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

   Ketenteraman tidak lahir dari satu pihak yang terus berkorban, melainkan dari relasi yang saling memahami dan berbagi.

   Sudah saatnya kita berhenti menjadikan kelelahan ibu sebagai standar normal. Yang seharusnya diwariskan bukanlah pola pengorbanan tanpa henti, melainkan kesadaran untuk membangun hubungan yang lebih adil. Menghormati ibu bukan dengan meniru penderitaannya, tetapi dengan memastikan generasi setelahnya tidak mengulang luka yang sama.

    Karena perempuan tidak diciptakan untuk selalu kuat sendirian, dan laki-laki tidak ditakdirkan untuk terus dilayani tanpa belajar berbagi. Hubungan yang sehat lahir dari kesadaran, bukan dari standar lama yang tak pernah dipertanyakan. 

"Ketika Ibu Menjadi Trauma, dan Standar yang Diam-Diam Kita Wariskan"

   Jadi, marilah kita bersama-sama memutuskan pola patriarki yang hanya menguntungkan satu pihak saja, karena sejatinya hubungan rumah tangga adalah saling bersama. 

Tulisan ini berdasarkan opini pribadi, jika ada kesalahan prespektif mohon maaf. Semoga tulisan ini bermanfaat 😊

Posting Komentar untuk "Ibu Kita Kuat, Tapi Apakah Itu Harus Jadi Standar?"