Foto screenshot postingan Ahmad Risyad di tik tok
Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah postingan TikTok Ahmad Risyad yang membahas pengaruh latar belakang keluarga pasangan terhadap hubungan. Topik ini terasa sederhana, tetapi diam-diam membuka luka dan kegelisahan banyak orang—tentang apakah masa lalu keluarga pantas dijadikan alasan untuk tidak memilih seseorang hari ini.
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika manusia berbicara tentang hubungan, jodoh, dan masa depan: tidak ada satu pun anak yang memilih untuk lahir dari keluarga seperti apa. Kita datang ke dunia ini tanpa formulir persetujuan, tanpa opsi latar belakang, tanpa kesempatan menentukan luka apa yang akan kita warisi.
Namun anehnya, di usia dewasa, latar belakang keluarga sering dijadikan tolok ukur nilai seseorang. Seolah-olah seseorang yang tumbuh dari keluarga yang “tidak ideal” otomatis kurang layak untuk dicintai, dipilih, atau diperjuangkan.
Padahal, bukankah hidup justru tentang bagaimana seseorang merespons keadaannya?
Seseorang yang benar-benar menjadikanmu tujuan tidak akan berhenti pada cerita masa lalu keluargamu. Ia akan melihat caramu hari ini: bagaimana kamu berusaha memahami diri, menyembuhkan luka, dan tidak menjadikan trauma sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Cinta yang dewasa tidak sibuk mencari asal-usul, tetapi fokus pada arah.
Islam sendiri menegaskan bahwa nilai manusia tidak diukur dari garis keturunan atau kondisi lahirnya. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini dengan jelas mematahkan anggapan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh latar belakangnya. Yang dinilai adalah kesadaran, tanggung jawab, dan ketakwaannya—bukan dari keluarga mana ia berasal.
Lebih dari itu, seseorang yang telah mati-matian berdamai dengan lukanya adalah orang yang telah menempuh perjalanan batin yang panjang. Ia belajar menerima, memaafkan, dan membangun batas agar tidak mewariskan rasa sakit yang sama. Proses ini tidak mudah, dan tidak semua orang sanggup menjalaninya.
Allah juga menegaskan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri:
قُلۡ اَغَيۡرَ اللّٰهِ اَبۡغِىۡ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَىۡءٍ ؕ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَـفۡسٍ اِلَّا عَلَيۡهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰى ۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمۡ مَّرۡجِعُكُمۡ فَيُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡـتُمۡ فِيۡهِ تَخۡتَلِفُوۡنَ ١٦٤
Katakanlah (Muhammad), "Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan." (QS. Al-An’am: 164)
Maka sungguh tidak adil jika seseorang dihukum atas luka yang tidak ia ciptakan, atau masa lalu yang tidak pernah ia pilih. Masa lalu boleh membentuk kita, tetapi ia tidak berhak menentukan seluruh masa depan kita. Yang layak dipilih bukanlah mereka yang hidupnya sempurna, melainkan mereka yang berani bertumbuh. Bukan mereka yang tanpa luka, tetapi mereka yang memilih untuk tidak menjadikan luka sebagai senjata.
Pada akhirnya, cinta yang sehat bukan tentang mencari manusia tanpa cacat, melainkan tentang menemukan manusia yang sadar—yang tahu ke mana ia melangkah, meski jalannya tidak pernah dimulai dari garis yang sama.
Tulisan ini berdasarkan opini pribadi, jika ada kesalahan prespektif mohon maaf. Semoga tulisan ini bermanfaat 😊
Posting Komentar untuk "Apakah Latar Belakang Keluarga Membuat Seseorang Tidak Layak Dipilih?"