Hidup Bukan Perlombaan, Tapi Perjalanan Menuju Allah

  


  Hidup ini bukan ajang saling mendahului, melainkan sebuah proses panjang yang dijalani setahap demi setahap. Ketika tujuan hidup kita adalah Allah, hidup tidak lagi diukur dari siapa yang paling cepat sampai, tetapi dari bagaimana setiap langkah dijalani sebagai ibadah.

    Namun jujur saja, capek tidak jika hidup terasa seperti perlombaan? Karier, menikah, punya anak—seolah hidup hanya soal siapa yang lebih dulu mencapai semuanya. Tanpa sadar, kita mulai menilai diri sendiri berdasarkan garis waktu orang lain. Kita membandingkan keseharian kita dengan potongan terbaik hidup mereka, lalu merasa tertinggal.

   Padahal, arah perjalanan setiap orang tidak pernah benar-benar sama. Kita terlalu sibuk mengejar kata “sudah”, sampai lupa berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya untuk apa semua ini?

    Sejak awal, Allah sudah menjelaskan dengan sangat jelas alasan keberadaan kita di dunia. Hidup bukan sekadar tentang mengejar dan mencentang target-target duniawi, melainkan tentang menjalani satu tujuan besar yang sama.

Allah berfirman bahwa manusia dan jin diciptakan bukan tanpa arah, melainkan untuk beribadah kepada-Nya 

QS. Adz-Dzāriyāt: 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan hidup kita bukan mengejar status dunia, melainkan beribadah kepada Allah—apa pun bentuk fase kehidupan yang sedang dijalani.

    Karena itulah wajar jika jalan kita berbeda-beda. Yang diseragamkan bukan jalannya, tetapi tujuannya. Tujuan hidup kita satu, meskipun langkah dan waktunya tidak pernah sama.

    Menikah bukanlah garis akhir. Memiliki anak pun bukan ukuran keberhasilan hidup. Begitu juga karier—ia bukan puncak dari segalanya. Semua itu bisa menjadi anugerah, namun di waktu yang sama juga bisa menjadi ujian.

    Hal yang sama dapat bernilai ibadah, tetapi bisa pula membuat kita lalai. Semuanya kembali pada satu perkara sederhana yang sering kita abaikan: niat. Perbuatan yang sama bisa bernilai sangat berbeda, tergantung ke mana arah niat itu ditujukan.

    Bahkan masa sendiri pun bukan fase yang sia-sia. Terkadang Allah sengaja memperlambat langkah hidup kita agar hati memiliki ruang untuk lebih peka mendengar panggilan-Nya. Sendiri bukan berarti hampa—sering kali itulah waktu Allah menguatkan kita.

    Hidup bukanlah tangga yang terus naik tanpa jeda, melainkan sebuah siklus.
Ada masa menunggu, masa memberi, masa jatuh, lalu bangkit dan belajar kembali. Semua fase itu wajar dan memiliki makna.

   Karena hidup bukan daftar cek yang harus cepat diselesaikan, melainkan perjalanan yang perlu dijalani dengan sadar dan penuh kesadaran. Allah tidak menilai kita dari status yang terlihat oleh manusia. Yang Allah lihat adalah sesuatu yang sering tersembunyi: arah hati kita. Ketika tujuan hidup sudah jelas, kita tidak akan terlalu panik meskipun progres terasa lamban. Sebab di dalam hati, kita tahu bahwa kita sedang menuju tempat yang benar.

    Jadi, jika hari ini kamu merasa tertinggal, pelan-pelan tarik napas. Selama langkahmu masih mengarah kepada Allah, kamu akan baik-baik saja. Ketika tujuan hidupmu adalah Allah, hidup tidak lagi menjadi perlombaan antar manusia, melainkan ibadah yang terus berjalan.

Kesimpulan

Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang ke mana arah langkah kita tertuju. Ketika tujuan hidup adalah Allah, maka setiap fase—cepat atau lambat, ramai atau sendiri—memiliki makna dan nilai ibadahnya sendiri.

Referensi 

Al-Qur’an

QS. Adz-Dzariyat: 56

Kajian

Dr. Haifaa Younis — Before You Get Married, Ask Yourself These Questions! Tentang tujuan hidup, iman, dan pernikahan sebagai bagian dari ibadah, bukan checklist sosial.


~Semoga Bermanfaat 😊 🌷 



Posting Komentar untuk "Hidup Bukan Perlombaan, Tapi Perjalanan Menuju Allah"