Menikah sebagai Mitsaqan Ghalizhan: Amanah yang Sering Diremehkan

  

Picture by pixel.com

  Banyak orang melangkah ke pernikahan dengan tergesa—karena cinta, takut tertinggal usia, atau tekanan lingkungan sekitar. Padahal, yang paling penting untuk direnungkan adalah satu pertanyaan mendasar: apakah aku benar-benar siap?

     Kesiapan menikah bukan sekadar soal pesta, rumah, atau status sosial. Kesiapan sejati adalah ketika seseorang mampu bertanya dengan jujur pada dirinya sendiri:
apakah aku siap menikah di hadapan Allah?

Dalam Islam, pernikahan bukan hanya kontrak sosial, melainkan mitsaqan ghalizhan—ikatan yang kuat dan sakral. Allah berfirman:

وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا

“Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”
(QS. An-Nisa: 21)

    Ikatan ini mengandung tanggung jawab besar, janji suci, dan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, sebelum menikah, penting memahami peran masing-masing. Seorang suami bukan hanya pemimpin, tetapi juga pelindung dan penanggung nafkah. 

   Seorang istri bukan sekadar pengikut, melainkan penopang, penenteram, dan partner dalam ibadah. Maka perlu direnungkan: apakah aku sudah memahami hak dan kewajiban sebagai pasangan?

Pernikahan juga tidak lepas dari ujian. Allah telah menegaskan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah akan diuji, melainkan apakah aku siap bersabar ketika ujian itu datang?

Lebih dalam lagi, luruskan niat. Menikah bukan hanya tentang kebahagiaan dunia. Jika niat hanya untuk merasa bahagia, maka ketika kebahagiaan itu diuji, rumah tangga mudah goyah. Namun jika niat karena Allah, setiap kesulitan akan bernilai pahala.

Allah berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

  Cinta dalam Islam bukan hanya menerima, tetapi juga memberi. Bukan hanya menuntut, tetapi juga berkorban. Bukan sekadar menyatukan dua hati, tetapi menundukkan ego demi kebaikan keluarga.

 Pernikahan bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna. Ia adalah perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik, lalu berjalan bersama menuju Allah. Banyak rumah tangga runtuh karena ekspektasi berlebihan—ingin pasangan selalu romantis, selalu mengerti, selalu ideal. Padahal, pernikahan adalah sekolah kehidupan: tempat saling belajar, saling melengkapi, dan saling menutupi kekurangan.

  Sebagaimana diingatkan oleh Dr. Haifaa Younis dalam kajiannya Before You Get Married, Ask Yourself These Questions!:

  Jika seseorang telah siap secara mental, spiritual, dan iman, maka resepsi hanyalah pelengkap. Namun ketika yang dipersiapkan hanya pesta tanpa iman, rumah tangga bisa runtuh dalam sekejap.


Karena pertanyaan sebelum menikah bukanlah, “Apakah aku bahagia bersamanya?”


melainkan, “Apakah aku bisa lebih dekat kepada Allah bersamanya?”

Kesimpulan

   Menikah bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi menyatukan dua niat menuju Allah. Bukan tentang seberapa megah pesta, tetapi seberapa kuat iman. Bukan tentang siapa pasanganmu, melainkan siapa dirimu saat menjadi pasangan. Jika iman menjadi fondasi, maka cinta akan bertahan. Jika Allah menjadi tujuan, maka ujian akan menguatkan, bukan meruntuhkan.

Referensi & Rujukan

Al-Qur’an

Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 21 — tentang pernikahan sebagai mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang kuat).

Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 21 — tentang tujuan pernikahan: sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 155 — tentang ujian hidup dan keutamaan kesabaran.

Dr. Haifaa Younis, Before You Get Married, Ask Yourself These Questions! (ceramah dan kajian pranikah).

~Semoga Bermanfaat 😊


Posting Komentar untuk "Menikah sebagai Mitsaqan Ghalizhan: Amanah yang Sering Diremehkan"