Ego Runtuh, Syukur Tumbuh

 Bersama dengan orang yang tidak mengerti arti syukur itu sulit. Sebab ia tidak akan pernah benar-benar tahu bagaimana sebuah hubungan bisa bertahan, apa yang membuat hati pasangan terluka, apa yang harus dijaga, dan apa yang perlahan-lahan bisa menghancurkan dirinya sendiri.

Semuanya tertutup oleh rasa angkuh dan ego.

Jika di dalam dirimu masih penuh luka batin, sembuhkanlah terlebih dahulu. Jangan menjadikan orang lain sebagai penanggung jawab atas luka yang tidak pernah ia sebabkan.

Sebelum memilih untuk menyendiri, belajarlah memahami arti syukur. Sadari luka-lukamu. Hadapi ketakutanmu. Lewati fase ketika egomu perlahan-lahan harus dikosongkan.

Karena terkadang, hidup akan membawa seseorang pada fase keruntuhan, fase ketika ia kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Entah kehilangan orang paling tulus yang pernah hadir dalam hidupnya, atau justru kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada titik itu, ketika semuanya terasa runtuh, ketika tidak ada lagi yang bisa disalahkan, ketika ego benar-benar dihancurkan oleh keadaan, barulah ia mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lihat:

Bahwa tidak semua orang akan tetap tinggal.

Bahwa ketulusan tidak selalu datang untuk kedua kalinya.

Bahwa seseorang yang selalu bersabar pun bisa lelah dan memilih pergi.

Dan bahwa sesuatu yang dulu dianggap biasa ternyata adalah sebuah anugerah.

Mungkin memang begitu cara hidup mengajarkan arti syukur.

Bukan ketika kita memiliki semuanya, tetapi ketika kita kehilangan sesuatu yang dahulu tidak pernah kita hargai.

Sampai akhirnya kita sadar, yang paling menyakitkan dari sebuah kehilangan bukan hanya kepergian seseorang, tetapi kesadaran bahwa dulu kita memiliki kesempatan untuk menjaganya, namun kita terlalu sibuk dengan ego untuk menyadarinya.

Posting Komentar untuk "Ego Runtuh, Syukur Tumbuh"